Fragmen 1
Janji-janji Bersambung
Pelayaran ini aku sebut kisah standar. Dan prolognya
adalah tanah batas laut. Sebuah negeri elusif yang mendadak menjadi
siaran tersohor dan ramai diperbincangkan khalayak. Sebab tatkala bidai
tena1 terkirai-kirai angkuh di atas sajadah selat, rupa-rupa
kenangan mereka hanyut
seketika.
Para pengendali rumah adat besar, juga
tokoh tingkat atas dan sekaligus merangkap sebagai pemegang hajat hidup kami murka. Manusia terhormat itu lantas menghimpun aksara-aksara berbau amarah,
lalu menyusunnya menjadi bongkahan kata-kata
sumpah serapah untuk menghardik tanah batas laut.
“Negeri terkutuk. Ia telah
merenggut segalanya”
Hardik pria paling berkuasa itu.
“Ini terjadi sebab
perempuan-perempuan pengkhianat itu. Tak bisa dimaafkan” Sahut tokoh lain.
Menegangkan.
Mereka sambung
menyambung mencerca segenap lapisan tanpa
belas kasih. Pasalnya didakwa bersekongkol
sehingga negeri terkutuk itu
menjarah para kerepong3 idola tanpa tilas apapun. Yang
tersisa hanyalah luka-luka menganga yang tak akan lekang oleh waktu.
Para perempuan yang terdakwa meratap
dari balik bilik-bilik duka. Mengenang
mestika asmara mereka yang hanyut tanpa bekas. Duka
lara yang mengiris hati mereka tak terurai
dengan butiran-butiran aksara. Segala rupa yang bernama penderitaan kini melebur
menjadi satu lalu merajam jiwa raga.
Kenangan, ya mereka hanya punya kenangan untuk dikenang. Memeluk kenangan begitu menyesakkan dada. Hidup
seakan-akan disayat
dengan silet sembilu lalu dipanggang di atas bara api. Perlahan membakar raga dan jiwa. Sangat
menyakitkan.
Lantas apa
Anda tahu dalangnya?
Wakil
pemerentah4 sok idealis itu adalah biang keladinya. Namun kini
mereka berlepas diri dari apa yang mereka perbuat. Dan sudah bisa ditebak.
Perhentian dari bencana ini adalah perempuan-perempuan malang itu. Mereka harus menadah segala bencana ini.
Pengecut. Bandit
atau lebih kejam sedikit
berandal. Itu
mungkin intisari dari cercaan tokoh adat.
Para aparatur desa kami yang tersohor karena pandai
calistung tingkat profesional
dan juga angkuh
berceloteh soal tata hukum yang benar,
bungkam. Terpaku
di atas tahta impresif mereka. Mereka
tak kuasa menyajikan seporsi solusipun.
Track record mereka yang gilang-gemilang sekonyong-konyong
meredup dalam kegelapan.
Mati kata. Susut karisma mereka di atas tungku-tungku adat. Entahlah. Bagaimana bisa mereka menjadi
amnesia mendadak.
“Kalian tahu, tata aturan pemerentah adalah salinan drama. Tak pernah
mereka hargai aturan yang mereka salin sendiri. Peradaban macam mana di negeri ini?”
Hardik Matsara, ketua tertinggi hukum adat di hadapan para tokoh adat lainnya.
“Memalukan.
Mereka tak patut bertapak di atas tanah negeri ini”
Sambung Igo, pemimpin suku Lama Hoda.
“Jangan
kau sebut kata memalukan. Peradaban pemerentah, rasa malu itu sudah tak dikenal”
Bantah Suku Riang Tuan. Mereka sepertinya berdebat kecil-kecilan.
“Kau
tahu Igo, gadis-gadis itu pun harus bertanggung jawab”” Pemimpin Suku Belen
meneriaki Igo. Igo seketika bungkam.
“Negeri ini dibangun di atas kesetian
memegang teguh janji.
Siapapun yang mungkir janji harus menerima akibatnya” Semprot Matsara
lagi. Rupanya ia telah menekankan
komitmannya pada hukum leluhur.
Ia benar-benar murka. Maksudku, murkanya sangat serius. Seakan
para tokoh yang duduk di hadapannya adalah para pelopor
kemalangan ini.Bersambung
Note : Tena (Perahu)

0 komentar:
Posting Komentar