Dunia Gonsalu, komitmen untuk berbagi pengetahuan (jika ada yang bermanfaat/kurang, mohon tinggalkan komentar)
Home » » Novel Gonsalu : Fragmen 1 (Bagian 1)

Novel Gonsalu : Fragmen 1 (Bagian 1)

Posted by Mari Berbagi on Jumat, 25 November 2016

Fragmen 1
Janji-janji Bersambung

        Pelayaran ini aku sebut kisah standar. Dan prolognya adalah tanah batas laut. Sebuah negeri elusif yang mendadak menjadi siaran tersohor dan ramai diperbincangkan khalayak. Sebab tatkala bidai tena1 terkirai-kirai angkuh di atas sajadah selat, rupa-rupa kenangan mereka hanyut seketika.
Para pengendali rumah adat besar, juga tokoh tingkat atas dan sekaligus merangkap sebagai pemegang hajat hidup kami murka. Manusia terhormat itu lantas menghimpun aksara-aksara berbau amarah, lalu menyusunnya menjadi bongkahan kata-kata sumpah serapah untuk menghardik tanah batas laut.  
 “Negeri terkutuk. Ia telah merenggut segalanya” Hardik pria paling berkuasa itu.   
“Ini terjadi sebab perempuan-perempuan pengkhianat itu. Tak bisa dimaafkan” Sahut tokoh lain.  
Menegangkan.
Mereka sambung menyambung mencerca segenap lapisan tanpa belas kasih. Pasalnya didakwa bersekongkol sehingga negeri terkutuk itu menjarah para kerepong3 idola tanpa tilas apapun. Yang tersisa hanyalah luka-luka menganga yang tak akan lekang oleh waktu.
Para perempuan yang terdakwa meratap dari balik bilik-bilik duka. Mengenang mestika asmara mereka yang hanyut tanpa bekas. Duka lara yang mengiris hati mereka tak terurai dengan butiran-butiran aksara. Segala rupa yang bernama penderitaan kini melebur menjadi satu lalu merajam jiwa raga.
Kenangan, ya mereka hanya punya kenangan untuk dikenang.  Memeluk kenangan begitu menyesakkan dada. Hidup seakan-akan disayat dengan silet sembilu lalu dipanggang di atas bara api. Perlahan membakar raga dan jiwa. Sangat menyakitkan.    
Lantas apa Anda tahu dalangnya?
Wakil pemerentah4 sok idealis itu adalah biang keladinya. Namun kini mereka berlepas diri dari apa yang mereka perbuat. Dan sudah bisa ditebak. Perhentian dari bencana ini adalah perempuan-perempuan malang itu.  Mereka harus menadah segala bencana ini.
Pengecut. Bandit atau lebih kejam sedikit berandal. Itu mungkin intisari dari cercaan tokoh adat.       
       Para aparatur desa kami yang tersohor karena pandai calistung tingkat profesional dan juga angkuh berceloteh soal tata hukum yang benar, bungkam. Terpaku di atas tahta impresif mereka. Mereka tak kuasa menyajikan seporsi solusipun.
Track record mereka yang gilang-gemilang sekonyong-konyong meredup dalam kegelapan.  Mati kata. Susut karisma mereka di atas tungku-tungku adat. Entahlah. Bagaimana bisa mereka menjadi amnesia mendadak.  
       “Kalian tahu, tata aturan pemerentah adalah salinan drama. Tak pernah mereka hargai aturan yang mereka salin sendiri. Peradaban macam mana di negeri ini?” Hardik Matsara, ketua tertinggi hukum adat di hadapan para tokoh adat lainnya.
       “Memalukan. Mereka tak patut bertapak di atas tanah negeri ini” Sambung Igo, pemimpin suku Lama Hoda.
       “Jangan kau sebut kata memalukan. Peradaban pemerentah, rasa malu itu sudah tak dikenal” Bantah Suku Riang Tuan. Mereka sepertinya berdebat kecil-kecilan.
       “Kau tahu Igo, gadis-gadis itu pun harus bertanggung jawab”” Pemimpin Suku Belen meneriaki Igo. Igo seketika bungkam.       
       “Negeri ini dibangun di atas kesetian memegang teguh janji. Siapapun yang mungkir janji harus menerima akibatnya” Semprot Matsara lagi. Rupanya ia telah menekankan komitmannya pada hukum leluhur.   
        Ia benar-benar murka. Maksudku, murkanya sangat serius. Seakan para tokoh yang duduk di hadapannya adalah para pelopor kemalangan ini.

Bersambung

Note : Tena (Perahu)


0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung

Terbanyak Dibaca

Diberdayakan oleh Blogger.
.comment-content a {display: none;}